01 Juli 2011

Cara atau Tips Menghilangkan MALAS

Malas bisa kita hindari ketika ia datang menyerang kemauan dan semangat kita, di bawah ini ada beberapa cara atau tips menghilangkan malas, antara lain:
  1. Membasuh muka atau mandi ketika kantuk menyerang.
  2. Mengubah posisi duduk ketika membaca. Misalnya dari duduk berubah menjadi berdiri, namun disarankan jangan dari duduk terus berbaring bisa berbahaya atau bisa kebablasan tidur.
  3. Berpindah dari ruang baca ke kamar yang lain. Kalau sebagai anak kos bisa disiasati, berpindah dari kamar kita ke beranda kos, ruang tamu atau bahkan bisa juga ke dapur.
  4. Menghirup udara yang segar dengan cara berdiri di dekat jendela atau membuka jendela-jendela kamar lain untuk menambah kesegaran. Sebagai anak kos bisa disiasati dengan menciptakan aroma terapi, misalnya dengan menyemprot ruangan dengan wangi-wangian dan jika ada kipas angin, bisa menyetel kipas untuk menyebarkan wangi-wangian tersebut ke segala ruang. Karena mungkin tidak semua anak kos mempunyai jendela kamar.
  5. Berjalan-jalan sebentar di sekeliling rumah. Bisa diganti dengan kegiatan yang lain misalnya merapikan rak yang berantakan, atau kegiatan yang lain yang bisa menggerakkan otot-otot kita.
  6. Berbincang-bincang sebentar dengan keluarga atau teman sekos namun mengenai hal mubah bukan keharoman. Hati-hati jangan sampai lupa tujuan utama dalam berbincang-bincang yaitu untuk menumbuhkan semangat, bukan untuk ngobrol bahkan meng-ghibah.
  7. Berdiri membuat secangkir kopi, teh, susu atau juice untuk menghilangkan kebosanan dan menjernihkan akal.
  8. Mengubah kegiatan ketaatan. Misal bosan menghafalkan surat berganti dengan membaca, jika membaca bosan bisa diganti dengan mendengarkan kajian lewat CD.
Itulah beberapa tips agar kita bisa terjauh dari penyakit malas. Akan tetapi yang paling utama jangan sampai kita lupa berdo’a agar Allah senantiasa memberi kita semangat dan agar menjauhkan diri kita dari penyakit malas tersebut. Wallohu A’lam bishowab.

Semoga tips di atas dapat bermanfaat bagi penulis ataupun bagi pembaca. Selamat tinggal Malas…

Sumber

Kenapa bisa terjadi MALAS ?

Pasti kita semua pernah merasakan malas. Malas merupakan salah satu penyakit pikiran atau mental yang menghinggapi hampir semua manusia dan terjadi dengan gradasi yang berbeda-beda. Ada malas yang ringan, sedang, berat dan sangat berat. Pada tulisan tidak akan membahas malas secara teknis, akan tetapi akan membahas apa yang menjadi akar masalah dari timbulnya malas.
Tulisan ini sangat penting untuk dibaca terutama bagi orang-orang yang menginginkan kehidupan yang lebih baik.

Pernahkah dalam kehidupan anda dihinggapi rasa malas?
Coba sejenak anda bayangkan kondisi atau masa di mana anda dihinggapi perasaan malas tersebut.
Kalau anda sudah dapat membayangkan nya coba amati apa yang anda rasakan dalam pikiran atau perasaan anda sekarang? Anda akan menemukan atau merasakan adanya dialog yang terjadi pada bawah sadar anda, yaitu adanya dialog pada diri kita yang terjadi antara diri kita yang menginginkan malas tersebut dengan diri kita yang menginginkan sebaliknya.

Apakah yang dimaksud adalah bahwa kita punya lebih dari satu diri?
Betul..
Kita mempunyai bermacam-macam diri, semua diri kita tersebut pada dasarnya menginginkan semua kebaikan pada "Diri Kita" yang sesungguhnya (menurut masing-masing diri tersebut).

Bingung?
Begini, untuk lebih jelasnya saya akan memberi contoh sewaktu kita terbangun pagi hari/subuh. Diri kita yang satu menginginkan agar kita segera bangun terus mandi, sholat dan siap-siap untuk berangkat kerja, menurut diri kita yang satu ini semua hal tersebut adalah untuk kebaikan kita. Sedangkan diri kita yang lain menginginkan agar kita melanjutkan tidur paling tidak 10 menit lagi, diri kita yang lain tersebut beralasan bahwa dengan menambah tidur 10 menit lagi maka kita akan lebih optimal dalam melaksanakan tugas di kantor. Sepintas, kedua alasan yang dikemukakan oleh masing-masing diri kita adalah untuk kebaikan kita, apakah sekarang sudah jelas? Lalu apa hubungannya dengan malas?

Sesungguhnya dalam buku-buku psikologi, secara umum pikiran manusia dibagi menjadi dua bagian, conscious mind (pikiran sadar) dan unconscious mind (pikiran bawah sadar).

Secara singkat akan dijelaskan :
Conscious mind merupakan tempat identifikasi informasi, membandingkan informasi tersebut dengan data base yang ada dalam fikiran bawah sadar, tempat analisis dan memutuskan, berfungsi untuk berfikir logika dan realistis. Peran dan pengaruh pikiran sadar terhadap diri kita adalah 12 %. Sedangkan Unconscious mind merupakan tempat tersimpannya memori dan pengalaman sejak otak kita mulai berfungsi (dalam kandungan) sampai sekarang, emosi, kepribadian, intuisi, kreativitas, persepsi dan nilai. Peran dan pengaruh pikiran bawah sadar terhadap diri kita adalah 88 %.

Kemalasan timbul dikarenakan pada diri seorang yang malas tadi dihinggapi oleh suatu kondisi citra diri negative. Namun citra diri negative tidak hanya membuat seseorang menjadi pemalas, banyak lagi penyakit-penyakit psikologis yang dapat timbul karenanya, pada tulisan ini kita lebih fokus membahas tentang malas.

Baiklah mari kita lanjutkan, lalu bagai mana bisa timbul citra diri negative pada seseorang? Begini, pernahkan anda mengamati bayi atau anak balita? Sesungguhnya bayi atau balita berhasil mencapai prestasi mengagumkan pada tahun-tahun awal kehidupannya. Tahun pertama bayi atau balita belajar berjalan. Tahun kedua mulai berkomunikasi dengan bahasa, tahun kelima mengenal 90 persen dari semua kata yang biasa digunakan oleh orang-orang dewasa, hal tersebut bisa mereka capai karena bayi dan balita tidak pernah mengenal konsep diri negative. Padahal kalau kita pikirkan secara mendalam, belajar berjalan, berbahasa dan menghapal 90 % kosa kata yang biasa dipakai oleh orang dewasa dalam komunikasi bukanlah suatu proses belajar sederhana, hal itu adalah proses belajar yang sangat kompleks dan rumit namun bisa dikuasai oleh bayi dan balita dengan sangat baik dan sempurna. Walaupun bayi terjatuh berkali-kali dalam proses belajarnya maka sang bayi akan kembali mencoba belajar berjalan, tidak ada kata malas pada sang bayi.

Kembali ke konsep diri, konsep diri negative timbul akibat suatu proses pembelajaran yang kurang baik, apakah itu terjadi secara tidak disengaja ataupun secara sengaja. Pada 1982, Jack Canfield, pakar masalah kepercayaan- diri, melaporkan hasil penelitian dimana seratus anak ditunjuk untuk seorang periset selama satu
hari. Tugas periset adalah mencatat berapa banyak komentar positif dan negatif yang diterima seorang anak dalam sehari. Penemuan Canfield adalah bahwa setiap anak rata-rata sehari menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau yang bersifat positive atau mendukung. Jadi, komentar negatif enam kali lebih banyak dibandingkan komentar positif!. Anda bisa bayangkan betapa umpan balik negatif yang kontinu ini sangat berbahaya.

Setelah beberapa tahun bersekolah, kemandekan belajar yang sesungguhnya benar-benar terjadi, dan anak-anak menghalangi / menutupi pengalaman belajar mereka secara tidak sadar. Saat lulus dari sekolah dasar, kata belajar itu sendiri bisa membuat murid merasa tegang dan terbebani. Proses belajar negative yang saya maksud disini bisa didapat dari pendidikan non formal seperti interaksi anak dengan orang tua, om, tante, teman, lingkungan bermain dan lain sebagainya ataupun bisa didapat dari lingkungan pendidikan formal. Apakah pendidikan formal juga punya andil dalam menciptakan konsep diri negative? Tentu ada, suatu contoh, seorang murid di minta bernyanyi di depan kelas oleh gurunya, karena mungkin suaranya kurang merdu lantas teman-temannya mentertawakan dan mengatakan bahwa suaranya sumbang dan menjadi stempel bagi dirinya bahwa suaranya sumbang. Dan itu membuat sang murid trauma. Atau diminta mengerjakan soal matematika di depan kelas yang tidak bisa dikerjakannya dengan benar, karena gurunya sudah mengajarkan berkali kali kok murid ini nggka bisa juga maka sang guru mengatakan "kok itu saja kamu nggak bisa! kamu bodoh ya..!" maka tertanamlah pada diri anak konsep diri negatve, bahwa saya bodoh.

Pada tulisan tidak akan memperpanjang uraian ini lebih lanjut karena kalau kita bahas tentu akan sangat luas. Saya ingin menegaskan bahwa konsep diri negative pada diri seseorang adalah ibarat program negative atau virus yang telah menyerang atau terinstal dalam komputer mental seseorang tersebut dan tersimpan jauh pada pikiran bawah sadarnya (unconscious mind). Lantas apakah bisa diatasi dengan motivasi atau dengan cara berfikir positive saja? Jawabanya tidak bisa atau sangat kecil kemungkinan bisa. Hal ini karena motivasi dan berfikir positive yang dilakukan hanya sampai pada level conscious mind saja. Padahal kita tahu bahwa conscious mind hanya punya peran sebesar 12 % saja. Sedangkan konsep diri tersebut tertanam pada unconscious mind yang punya kekuatan 88 % atau 9 kali lebih kuat dari conscious mind. Lalu bagai mana cara mengatasinya?

Salah satu cara yang paling efektive dan cespleng adalah dengan hypnotherapy.
Dengan hypnotherapy seorang Hypnotherapist akan langsung berkomunikasi dengan unconscious mind seseorang untuk melakukan uninstal program-program negative dan menginstal atau reedukasi unconscious mind nya dengan program-program positive yang akan membantu keberhasilan dan kesuksesannya dimasa yang akan datang.

Sumber

29 Juni 2011

Mengapa ada begitu banyak omong kosong?

Mengapa ada begitu banyak omong kosong? Tentu saja mustahil untuk memastikan bahwa ada relatif lebih saat ini daripada waktu-waktu lainnya. Ada komunikasi yang lebih dari semua jenis waktu kita daripada sebelumnya, tetapi proporsi yang omong kosong tidak mungkin telah meningkat. Tanpa asumsi bahwa kejadian omong kosong sebenarnya lebih besar sekarang, saya akan menyebutkan beberapa pertimbangan yang membantu untuk memperhitungkan fakta bahwa saat ini begitu besar.

Omong kosong tidak dapat dihindari ketika keadaan membutuhkan seseorang untuk berbicara tanpa mengetahui apa yang ia bicarakan. Dengan demikian produksi omong kosong ini dirangsang ketika kewajiban seseorang atau kesempatan untuk berbicara tentang beberapa topik melebihi pengetahuan tentang fakta-fakta yang relevan dengan topik itu. Perbedaan ini adalah umum dalam kehidupan masyarakat, di mana orang sering terdorong - apakah dengan kecenderungan mereka sendiri atau oleh tuntutan orang lain - untuk berbicara panjang lebar tentang hal-hal yang mereka beberapa derajat bodoh. Erat terkait kasus timbul dari keyakinan luas bahwa itu adalah tanggung jawab warga negara dalam demokrasi untuk memiliki pendapat tentang segala sesuatu, atau setidaknya segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan negaranya. Tidak adanya hubungan yang signifikan antara pendapat seseorang dan kekhawatiran tentang realitas bahkan akan lebih parah, perlu untuk mengatakan, bagi seseorang yang percaya itu adalah tanggung jawabnya, sebagai agen moral hati nurani, untuk mengevaluasi kejadian dan kondisi di semua bagian dunia.

Perkembangan kontemporer omong kosong juga memiliki sumber yang lebih dalam, dalam berbagai bentuk skeptisisme yang menyangkal bahwa kita bisa memiliki akses yang dapat dipercaya ke sebuah realitas obyektif, dan karena itu menolak kemungkinan mengetahui bagaimana hal-hal sesungguhnya. Ini "antirealist" doktrin merusak kepercayaan nilai upaya tertarik untuk menentukan apa yang benar dan apa yang palsu, dan bahkan dalam kejelasan gagasan penyelidikan obyektif. Salah satu tanggapan ini kehilangan kepercayaan telah mundur dari disiplin yang dibutuhkan oleh dedikasi kepada kebenaran ideal untuk semacam berbeda disiplin, yang dikenakan oleh mengejar ideal alternatif ketulusan. Daripada mencari terutama untuk tiba pada representasi akurat dari dunia umum, individu berubah arah mencoba untuk memberikan representasi yang jujur ​​tentang dirinya sendiri. Yakin bahwa realitas tidak memiliki sifat yang melekat, yang mungkin berharap untuk mengidentifikasi sebagai kebenaran tentang hal-hal, ia mengabdikan dirinya untuk bersikap jujur ​​pada sifatnya sendiri. Seolah-olah dia memutuskan bahwa karena tidak masuk akal untuk mencoba untuk jujur ​​pada fakta-fakta, karena itu ia harus sebaliknya mencoba untuk jujur ​​pada dirinya sendiri.

Tapi ini masuk akal untuk membayangkan bahwa kita sendiri tentu, dan karenanya rentan baik untuk memperbaiki dan deskripsi salah, sedangkan mengandaikan bahwa anggapan kepastian untuk hal lain telah terkena sebagai sebuah kesalahan. Sebagai makhluk sadar, kita hanya ada dalam menanggapi hal-hal lain, dan kita tidak bisa mengetahui diri kita sama sekali tanpa mengetahui mereka. Selain itu, tidak ada dalam teori, dan tentu saja tidak ada dalam pengalaman, untuk mendukung penilaian yang luar biasa bahwa itu adalah kebenaran tentang dirinya yang paling mudah bagi seseorang untuk tahu. Fakta tentang diri kita sendiri tidak khusus yang solid dan tahan terhadap pembubaran skeptis. Kodrat kita, memang, elusively substansial - terkenal kurang stabil dan kurang melekat dari kodrat hal-hal lain. Dan sejauh hal ini terjadi, ketulusan itu sendiri adalah omong kosong.

sumber